KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

17 Pasangan Suami Istri Ikut Sidang Isbat Yang Digelar MUI Karimun, Dari 50 Pasangan Tak Punya Buku Nikah

Ada Usia Kakek Nenek Yang Tak Punya Buku Nikah

RADIOAZAM.ID – Sebanyak 17 pasangan suami istri mengikuti sidang isbat untuk mendapatkan dokumen buku nikah secara sah, yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karimun selama dua hari, Kamis (12/11) dan Jumat (13/11).

Wakil Ketua I MUI Kabupaten Karimun, M Rasyid Nur mengatakan, isbat nikah digelar dua hari dari dua tempat berbeda. Hari pertama, Kamis (12/11) dipusatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kundur, diikuti sebanyak delapan pasangan suami istri yang belum memiliki buku nikah.

“Kegiatan ini bekerjasama dengan Pengadilan Agama (PA) Tanjungbalai Karimun, dan dipastikan gratis, karena sudah dianggarkan oleh MUI Kabupaten Karimun. Peserta tidak hanya berasal dari Kecamatan Kundur, tapi ada juga dari beberapa Kecamatan diluar Pulau Kundur. Lalu lanjut hari kedua, hari ini di Pulau Karimun dilaksanakan di Gedung Jam’iyatul Birri Kabupaten Karimun-Poros,” ujar Rasyid, Jumat (13/11).

Dijelaskan Rasyid, perlunya digelar isbat nikah karena masih banyak ditemukan adanya umat Islam yang sudah berumah tangga, hidup sebagai pasangan suami istri tapi belum memiliki dokumen atau buku nikah, padahal usia pernikahan sudah bertahun-tahun atau cukup lama.

“Boleh jadi mereka dulunya nikah tidak melalui KUA, atau mungkin nikah dikampung, dinikahkan orang tua atau penghulu, tanpa mengikuti prosedur resmi melalui catatan resmi,” kata Rasyid.

Sebelum mengikuti sidang isbat nikah, para peserta yang mendaftar mengikuti proses seleksi atau verifikasi.

Awalnya lanjut Rasyid, peserta yang mendaftar sebanyak 50 orang, namun karena tidak lolos dalam tahapan dan kelengkapan, serta ada beberapa syarat yang tak dapat dilengkapi. Sehingg hanya 17 orang yang dinyatakan boleh mengikuti sidang isbat.

“Data pendaftar sebanyak lebih kurang 50 orang secara keseluruhan, yang bersumber dari seluruh KUA se Kabupaten Karimun. Setelah dikumpulkan data tersebut lalu berkoordinasi dengan Kanmenag dan melakukan verifikasi,” ungkapnya.

Secara umum, dari hasil seleksi 17 pasangan suami istri yang mengikuti sidang isbat, dipastikan nikahnya sah. Karena telah lebih dulu meminta keterangan berkaitan dengan prosedur pernikahannya, seperti meminta semua keterangan berkaitan dengan prosedur pernikahan, waktu dan tempat menikahnya dimana, siapa saksinya, siapa yang menikahkan.

“Jika sayarat yang ditentukan terpenuhi, maka mereka diputuskan oleh Pengadilan Agama bahwa nikah yang dilakukan itu sah, hanya saja tidak memiliki dokumen,” jelas Rasyid.

Dari 17 pasangan suami istri yang ikut sidang isbat itu, diketahui mereka sudah cukup berumur ada yang telah berusia 40 tahun, 50 tahun bahkan sudah kakek nenek atau usia 60 tahun.

Dengan kata lain, para peserta sidang isbat pada umumnya sudah serumah dalam ikatan perkawainan dalam waktu yang cukup lama.

“Memang mereka ini merasa sebagai suami istri, punya anak bahkan sudah bercucu, tetangga mereka pun selama ini tidak mempermasalahkan, karena masyarakat pun tahu dia sebagai suami istri, bukan nikah siri atau diam-diam dan segala macam. Tapi memang nikahnya orang dulu-dulu itu ada yang masih menganut paham cukup menikah dengan penghulu, atau dinikahkan oleh keluarga, sehingga tidak pakai dokumen atau tidak punya buku nikah,” terangnya.

Dalam melaksanakan sidang isbat, Pengadilan Agama membentuk dua majelis isbat. Sehingga dapat menghemat waktu, dan bisa melakukan sidang untuk dua pasangan siami istri sekali jalan.

Menurut Rasyid, adapun pasangan suami istri yang dinyatakan tidak lolos untuk mengikuti sidang isbat nikah, terdapat beberapa alasan diantaranya, ketika akan mengikuti isbat nikah ternyata pasangannya itu merupakan istri kedua, dan saat mendaftar tidak terbuka. Lalu diselidiki dan ditanya baik-baik sehingga diperoleh keterangan, ternyata dia sudah punya istri pertama, sehingga boleh jadi proses menikahnya dengan istri kedua dilakukan secara diam-diam.

“Karena menikah diam-diam tentu tidak ada dokumen, nah yang seperti ini tidak bisa dilanjutkan, karena istilahnya belum tentu pernikahannya itu sah dan memenuhi syarat menurut ketentuan. Meskipun tahun depan ada lagi program ini, ketika mereka kembali mendaftar, ya tetap saja tidak bisa lolos jika menikahnya diam-diam tanpa sepengetahuan istri pertamanya,” kata Rasyid.

Usai mengikuti sidang isbat, buku nikah akan diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kanmenag). Lalu akan dilanjutkan dengan mengubah identitas dokumen mulai dari Karti Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan sebagainya.

“Belum tahu kapan selesainya buku nikah mereka, kita tunggu saja,” pungkasnya.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close