KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

8 Nelayan Kecamatan Moro Terseret Arus Sampai Perairan Malaysia dan Ditangkap, DPRD Karimun Minta Pemerintah Segera Bertindak

RADIOAZAM.ID – Delapan oran nelayan asal Pulau Bahan Desa Keban Kecamatan Moro ditangkap aparat Marine Malaysia, saat tengah melaut di perbatasan perairan negara, tepatnya di perairan Batu Putih Berakit atau Lagoi, pada Selasa pagi (10/3) sekira pukul 11.00 WIB.

Dari informasi yang dihimpun, pelanggaran di wilayah perairan perbatasan antar negara yang dilakukan delapan nelayan asal Kecamatan Moro itu, dinilai tidak ada unsur kesengajaan, melainkan karena terseret arus air laut yang cukup deras.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karimun dari Dapil II (Moro-Durai), Samsul mengaku, sampai saat ini tidak ada kejelasan bantuan atau perhatian yang diberikan oleh pemerintah, baik Pemkab Karimun maupun Pemprov Kepri.

“Belum ada kejelasan terhadap delapan nelayan kita yang ditangkap Marin Malaysia,” ungkap Samsul, Rabu (18/3).

Delapan nelayan Pulau Bahan Desa Keban Kecamatan Moro yang diamankan Marine Malaysia antara lain, Agusalam, Nasron, Zuan, Yanto, Erwin, Suwandi, Tamser dan Kamel.

“Pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) harus segera mengambil langkah secepatnya. Agar ada komunikasi antar pihak berwenang. Sudah delapan hari nasib mereka tidak ada kejelasan dan tidak ada kabar. Seperti apa solusinya kami masih menunggu,” pinta politisi Golkar ini.

Pria yang juga sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ini juga menilai, pemerintah tampak tak serius menangani persoalan itu, hanya sibuk memikirkan persoalan wabah.

Samsul mengatakan, pihak keluarga sampai saat ini terus berharap, agar ada upaya hukum pembelaan nelayan yang ditahan pihak Malaysia.

Bila perlu kata dia, pihak perikanan harus datang ke Malaysia, agar ada kejelasan. Karena sangat miris melihat keluarga yang ditinggalkan dirumah, terlantar tanpa ada kejelasan hukum dan kejelasan nafkah.

“Tanggal 25 Maret ini ke delapan nelayan kita akan naik mahkamah persidangan di Malaysia. Tapi sampai sekarang belum juga terlihat tindakan yang dilakukan pemerintah. Sudah delapan hari mereka ditahan atas kesalahan yang tak disengaja, hanya karena terseret arus air laut,” kata Samsul lagi.

Sementara, Kepala UPT Pelayanan Usaha Perikanan Kecamatan Moro, Jack Sebastianus Sihotang mengatakan, atas penangkapan terhadap delapan nelayan asal Kecamatan Moro tersebut, pihaknya telah berkirim surat secara resmi kepada DKP Provinsi Kepri dan kepada Satuan Kerja (Satker) Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Moro.

“Kami sudah melimpahkan persoalan ini kepada DKP Provinsi Kepri. Segala tindak lanjut, semuanya sudah menjadi kewenangan dari Provinsi dan Kementerian di pusat,” kata Jack, Rabu malam (18/3).

Jack juga menjelaskan kronologis delapan nelayan Kecamatan Moro yang melaut itu sebelum ditangkap, bermula ketika mereka pergi memancing ikan menggunakan bot pancung dan bot fiber bermesin tempel Yamaha 15 PK, alat tangkap yang digunakan berupa pancing.

Masing-masing mereka menggunakan bot pancung dan bot fiber, yang beranggotakan dua orang setiap bot. Tujuannya menangkap ikan di Perairan Batu Putih Berakit Lagoi pada Selasa pagi (10/3) sekira pukul 10.00 WIB.

“Tanpa disadari arus membawa bot nelayan tersebut masuk ke perairan perbatasan Malaysia, sehingga mereka dianggap telah menangkap ikan di perarian Malaysia, dan Marine dari negara tetangga langsung mendekati empat bot nelayan tradisional itu,” kata Jack.

Setelah dihampiri, Marine Malaysia membawa seluruh nelayan berikut bot dan alat tangkap yang digunakan, lalu digiring menuju Malaysia pada pukul 11.00 WIB untuk dilakukan proses selanjutnya.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close