KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

Bayi Rafiady Warga Pelambung Sempat Viral Karena Bonggol di Kepala Kini Telah Pergi Selamanya

RADIOAZAM.ID – Masih ingat dengan bocah yang lahir dengan bonggol di kepala, warga Pelambung Desa Pongkar Kecamatan Tebing bernama Rafiady, bayi yang sudah berusia 2,7 tahun ini kini telah menghembuskan nafas terakhirnya, pada Kamis dini hari (14/1) sekira pukul 02.00 WIB.

Bonggol di kepala Rafiady telah berhasil dioperasi di salah satu rumah sakit Jakarta saat bayi tersebut baru berusia sekitar dua bulan pada tahun 2018 silam. Kemudian kesehariannya sudah mulai tumbuh seperti bayi yang lainnya. Namun siapa sangka Rafiady harus menghembuskan nafas terakhirnya karena step.

Sosok Rafiady sendiri sempat menyedot perhatian publik, ia terlahir dari keluarga yang kurang mampu dari seorang ayah bernama Efendi (37) dan ibunya bernama Suraya (30), pada Juni 2018 silam. Ketika berusia satu bulan lebih, tumbuh bonggol dibagian ubun-ubunnya dan semakin membesar berisi cairan. Orang tuanya tak punya pilihan apa-apa karena hanya pekerja serabutan yang penghasilannya tidak tetap.

Kabar tersebut pun sampai ke telinga Bupati Karimun Aunur Rafiq dan beberapa pejabat lainnya, termasuk anggota DPRD Kabupaten Karimun, Nyimas Novi Ujiani, sehingga kediaman keluarga kecil tersebut tampak tak pernah sepi dalam beberapa hari. Berbagai bantuan dan jaminan berobat telah diupayakan oleh instansi terkait, bahkan sempat dilakukan penggalangan dana dari masyarakat oleh beberapa komunitas di Kabupaten Karimun.

Upaya yang dilakukan itu tak sia-sia, beberapa bulan lamanya, Rafiady akhirnya pulih dan bonggol di kepalanya telah diangkat. Dia tumbuh besar layaknya balita seusianya, bahkan dalam kondisi tubuh yang cukup berisi. Namun balita yang menggemaskan itu kini telah tiada, selama dua hari dia mengalami panas tinggi dan kejang-kejang, namun menghembuskan nafas terakhir pada Kamis dini hari (14/1) sekitar pukul 02.00 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muhammad Sani.

Salah seorang keluarga atau family dari Rafiady, bernama Risma Wati mengatakan, meninggalnya Rafiady karena panas tinggi dan sempat step dua kali. Namun tidak diketahui berapa panas almarhum waktu itu, ayah dan ibunya hanya bergegas membawa bocah mantan penderita benjolan di kepala itu ke RSUD Muhammad Sani.

“Ia, Rafiady meninggal dunia tadi subuh (Kamis dini hari-red) tepat di usia 2,7 tahun. Mulanya cuma panas tinggi, sudah dua hari, tapi disertai step. Hari kedua masih panas tinggi, dan dibawa orang tuanya ke RSUD pada Rabu siang (13/1) sekitar pukul 14.00 WIB,” jelas Wati, Kamis siang (14/1).

Jenazah Rafiady kemudian dibawa pulang sekitar pukul 03.00 WIB dini hari untuk disemayamkan. Kemudian dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) sekitar tempatnya tinggal pada Kamis siang (14/1) pukul 11.30 WIB.

Wati berkisah, kondisi anak pertama dari dua bersaudara itu tumbuh dengan tubuh menggemaskan dan lucu. Rafiady memang sempat menyedot perhatian publik, karena menderita kelainan pada bagian kepala. Para pejabat mulai dari anggota DPRD, Bupati, pihak kepolisian dan masyarakat saling berdatangan memberikan bantuan dan kemudahan, sehingga kepala Rafiady pun berhasil dioperasi.

“Tapi siapa sangka panas tinggi kemarin itu membuat dia tidak kuat dan akhirnya meninggal dunia. Tadi malam sempat ditangani medis dan sewaktu mau dimasukkan selang infus, tapi medis sempat kesulitan mencari pembuluh darah. Kemudian dapat kabar kalau dia telah menghembuskan nafas terakhir,” pungkas Wati.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close