KARIMUNSERANTAUTERKINI

BLK Mitra Mandiri Pamak Latih Tujuh Orang Dengan Peralatan Seadanya, Nyimas Novi Siap Kawal Peserta Pelatihan Hingga Dapatkan Pekerjaan

RADIOAZAM.ID – Upaya masyarakat Kabupaten Karimun untuk merebut peluang bekerja di dunia industri semakin gencar, seperti salah satu Balai Latihan Kerja (BLK) yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat di Pamak Kecamatan Tebing.

Mereka menyediakan sendiri lokasi BLK yang difungsikan mendidik putra daerah menggunakan peralatan seadanya, sampai skill yang dinilai telah mencukupi kemudian diarahkan untuk mengikuti sertifikasi dan didorong untuk bekerja di PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB).

BLK bernama Mitra Mandiri dan Training Centre itu mendidik tujuh orang anak tempatan. Salah seorang diantaranya merupakan lulusan Sarjana Sastra Inggris di Pulau Jawa dan baru saja lulus tahun 2020 kemarin. Kemudian beberapa diantaranya lulusan SMA jurusan IPS serta ada juga yang lulusan SMK jurusan otomotif.

“Menjawab kebutuhan pekerja, ya mau tidak mau harus “banting setir” tidak sesuai dengan jurusan. Mau jadi guru, sekarang ribet banyak yang perlu dilengkapi, belum lagi soal gajinya seperti sekarang ini dipotong. Sehingga lebih baik ikut latihan di BLK Mitra Mandiri ini,” ujar Farhan Sepdika saat berdiskusi dengan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Karimun, Nyimas Novi Ujiani dalam kegiatan reses, Selasa (31/8).

Pria yang baru lulus di sebuah perguruan tinggi di Malang ini pun tidak malu dan tidak canggung untuk melatih skilnya didunia pekerjaan berat. Ia mengaku demi mendapatkan peluang bekerja pada perusahaan yang ia idamkan, rela banting setir dari jurusannya yakni Sastra Inggris.

Sementara itu rekan satu pelatihannya, M Dio Laksamana juga mengatakan hal yang sama. Peluang kerja saat ini sangat membutuhkan skill agar mampu bersaing dan dapat bekerja di PT Saipem.

“Apa lagi gaji istri sekarang sebagai honorer di salah satu Sekolah Dasar (SD) dipotong, maka saya pun perlu meningkatkan skill untuk persiapan bekerja. Sebelumnya saya kerja di PT MOS dan sudah selesai karena job pun sudah habis. Makanya saya ingin meningkatkan skill agar bisa masuk PT Saipem,” kata Dio.

Dijelaskannya, kondisi BLK Mitra Mandiri dan Training Centre tempatnya bersama enam orang rekannya yang lain, memang belum memadai untuk pelatihan dalam jumlah yang banyak. Karena dari segi peralatan yang masih terbatas, sehingga dengan jumlah tujuh orang secara keseluruhan, dinilai sudah maksimal untuk memfungsikan BLK tersebut.

“Peralatan yang ada sekarang lima alat las untuk pelatihan, satu diantaranya rusak, sehingga yang bisa terpakai hanya empat. Kalaupun mau dipaksakan ada penambahan peserta pelatihan, paling banyak hanya mampu 12 orang saja. Artinya ya masih sekitar lima orang lagi mungkin masih bisa. Kalau untuk 20 orang memang tidak bisa, atau dengan kata lain tidak maksimal karena peralatan terbatas,” jelasnya.

Dia pun mengaku atas ketersediaan peralatan yang belum cukup, maka pelatihan yang sejatinya sudah bisa meningkatkan skill mereka hanya dalam waktu sekitar satu sampai dua bulan. Maka degan kondisi tersebut bisa memakan waktu berbulan-bulan atau minimal enam bulan.

“Tapi alhamdulillah semua peralatan pelatihan disini mendapat suport dari Ibu Nyimas Novi Ujiani. Meski jumlahnya masih terbatas, tapi kami bisa berbagi ilmu dan meningkatkan skill, dibantu oleh pelatih yang memang bekerja di PT Saipem, sepulangnya bekerja langsung melatih kami disini,” tambah Dio.

Untuk memenuhi kebutuhan pelatihan seperti membeli mata gerinda, kawat las, token listrik dan keperluan lainnya, maka para peserta pelatihan BLK tersebut hanya diperlukan membayar uang kas per hari Rp5000.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Karimun, Nyimas Novi Ujiani mengatakan, BLK Mitra Mandiri dan Training Centre memang perlu mendapat perhatian serius. Meskipun saat ini dia telah memberikan peralatan untuk pelatihan melalui dana aspirasinya selaku anggota DPRD, namun masih perlu ada penambahan secara maskimal yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

“BLK ini harus tetap hidup dan harus melatih putra daerah, agar dapat kesempatan bekerja. Selain bantuan yang telah saya berikan sebelumnya berupa beberapa unit mesin las untuk pelatihan, mereka juga perlu peralatan pendukung lainnya, maka ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Nyimas Novi.

Mengenai para peserta pelatihan di BLK Mitra Mandiri dan Training Centre yang berbanding terbalik dengan jurusan pendidikan mereka, Nyimas Novi mengaku memang harus berani mengambil resiko untuk dapat merebut peluang.

Dikatakannya, melihat semangat para peserta yang rela banting setir demi mendapatkan kesempatan kerja yang lebih besar, di salah satu perusahaan bonafid, maka Nyimas Novi mengaku akan mengawal tujuh orang tersebut agar dapat meneruskan ke pelatihan sertifikasi. Kemudian dikawal bersama sang pelatih bernama Darmono yang telah lebih dulu bekerja di PT Saipem, agar dapat merekomendasikan kemampuan mereka untuk dapat bekerja di perusahaan asal Italy tersebut.

“Perjanjian antara pemerintah daerah dengan PT Saipem harus menerapkan 70 persen pekerja putra daerah, dan 30 persen dari luar. Nah yang 70 persen ini harus mampu memberikan kesempatan bagi tujuh orang peserta pelatihan dari BLK Mitra Mandiri dan Training Centre ini,” kata Nyimas Novi.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close