KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

Harga Cabe di Pasaran Semakin Pedas, Per Kilogram Rp90 Ribu Sampai Rp100 Ribu

RADIOAZAM.ID – Harga komoditas kebutuhan bumbu dapur di Kabupaten Karimun semakin tinggi, khususnya dari jenis cabe, yang hingga saat ini mencapai Rp90.000 per kilogram, dari harga biasanya per kilogram Rp30.000 sampai Rp40.000.

Kondisi ini dikarenakan terjadi gagal panen dari sejumlah daerah penghasil, kemudian dijual dengan harga tinggi, lalu para pedagang yang membeli ke distributor pun sudah dengan harga tinggai. Sehingga saat dijual di pasaran mengalami lonjakan harga.

Seperti dijelaskan oleh salah seorang pedagang Pasar Puan Maimun, Anton. Untuk jenis cabe rawit saat ini dijual seharga Rp90.000 untuk satu kilogram. Sebelum terjadi kenaikan harga, dia biasanya menjual cabe rawit Rp40.000 per kilogram.

“Naiknya 110 persen dari harga sebelumnya Rp40.000 per kilogram. Kondisi ini terjadi karena pasokan cabe sangat minim, diakibatkan oleh cuaca yang buruk sehingga petani cabe gagal panen,” jelas Anton, Kamis (21/1).

Dijelaskan Anton, karena saat mengambil dari distributor harganya sudah mahal, maka dia pun terpaksa menjual dengan harga mahal pula, meski dengan untung yang sangat tipis.

Pada pembeli atau pelanggannya pun lebih memilih mengurangi jumlah yang akan dibeli, jika biasanya membeli sekitar setengah kilogram atau sampai satu kilogram cabe, namun saat harga tinggi lebih berkurang, rata-rata antara empat ons atau hanya dua ons saja.

“Tidak hanya terhadap jenis cabe rawit, tapi juga cabe merah dan sayuran juga mengalami kenaikan. Yang diakibatkan cuaca buruk dan petani mengalami gagal panen,” tambah Anton.

Seperti jenis cabe merah yang ia jual saat ini seharga Rp60.000 per kilogram, bahkan ada juga yang menjual seharga Rp70.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperas, UKM dan ESDM Kabupaten Karimun, M Yosli mengatakan, tingginya harga cabe diakibatkan pasokan yang sangat minim.

“Pasokan cabe didatangkan dari Jawa dan Sumatera, harganya saat ini memang mencapai antara Rp90.000 sampai Rp100.000 per kilogram,” jelas Yosli.

Dijelaskannya, para distributor cabe di Karimun memang mengambil pasokan dari wilayah Sumatera dengan harga yang sudah cukup tinggi, per kilogram Rp70.000, sehingga saat dijual ke pedagang di Karimun pun harganya terus naik, lalu pedagang menjual ke pembeli juga terjadi kenaikan harga.

“Tingginya harga di pasaran karena distributor yang ambil barang dari daerah penghasil pun sudah sangat tinggi. Itu juga belum termasuk biaya perjalanan, sehingga kenaikan harga memang dipengaruhi sejak dari daerah penghasil,” jelas Yosli lagi.

Salah satu upaya yang dilakukannya adalah, Yosli telah melakukan pendekatan dengan para petani lokal di Kabupaten Karimun, untuk menjual dan menjadi pemasok cabe bagi pedagang di Kabupaten Karimun, meski memang belum mencukupi kebutuhan. Namun paling tidak bisa menurunkan harga jual ketika pasokan tersedia dengan cukup dan biaya perjalanan pun tidak tinggi karena masih dalam satu wilayah Kabupaten Karimun.

Dalam antisipasi tersebut, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Kabupaten Karimun. Agar para petani unggul yang ada di Kabupaten Karimun yang menjadi binaan dinas tersebut, dapat menjual hasil panennya di pasaran Kabupaten Karimun dan tidak menjual terlebih dahulu ke luar daerah.

“Walaupun stok cabe kita belum mampu memenuhi kebutuhan pasar, tapi paling tidak pasokan bisa tetap ada, dan
ini pun sangat membantu,” pungkas Yosli.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close