KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

Nasib Warga Karimun Mengais Rizki di Negara Tetangga, Pemerintah Malaysia Pulangkan WNI Secara Besar-Besaran

Efek Virus Corona, Pekerja Asal Karimun Kebingungan Nafkahi Keluarga

RADIOAZAM.ID – Wabah virus corona di negara tetangga Malaysia, berimbas kepada pemulangan Waga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi tenaga kerja, baik asal Kabupaten Karimun maupun dari daerah lain se Indonesia secara besar-besaran.

Pemerintah Malaysia mengerahkan tentara negara setempat, untuk menyisir para pekerja asing yang masih bercokol di negara mereka. Pemulangan sudah dimulai sejak beberapa hari belakangan, mengakibatkan sarana pelabuhan Kukup-Malaysia dipadati penumpang yang harus pulang ke kampung halaman, meski masa kerja masih lama.

Informasi yang diperoleh dari warga Kabupaten Karimun yang bekerja di Malaysia, Bani menyebutkan, dia terpaksa pulang lebih awal meski pekerjaanya di negara tetangga belum rampung. Seraya mengaku sitausi Pelabuhan Kukup- Malaysia sangat padat, seperti liburan menjelang hari raya Idul Fitri.

Harusnya kata Bani, dia baru pulang sekitar seminggu lagi, tapi bos tempatnya bekerja sudah memerintahkan dia dan beberapa teman seprofesinya untuk buru-buru pulang kampung.

“Pemerintah Malaysia melarang kami dan ribuan warga Indonesia lainnya tinggal di negara mereka, makanya saya pulang pada Jumat kemarin (20/3) saya langsung berangkat. Kita dikasi waktu beberapa hari sudah harus tinggalkan negara Malaysia, kemudian mereka akan merazia semua tempat, kalau kedapatan ancamannya didenda RM2000,” ungkap pria yang berdomisili di Desa Lubuk Kecamatan Kundur ini, Sabtu (21/3).

Di Malaysia, Bani mengaku bekerja sebagai buruh bangunan, ia mengerjakan sebuah rumah besar warga setempat. Yang diperkirakan sudah selesai menjelang hari raya Idul Fitri, artinya masih sekitar sebulan lagi akan tuntas dan bisa ditempati oleh tuan rumah.

“Tapi belum selesai pekerjaan kami sudah disuruh pulang bersama beberapa kawan yang dari Tanjungbatu juga,” kata Bani.

Dia menyebutkan, kondisi di Malaysia makin mencekam layaknya tanpa penghuni. Karena semua penduduk tanpa terkecuali, diperintahkan untuk tetap dirumah dan dilarang keluyuran sampai 31 Maret mendatang. Bahkan untuk memastikan agar tidak ada warga yang keluyuran, tentara negara Malaysia dikerahkan setiap saat menyisir jalan-jalan dan pemukiman warga.

“Toko-toko semua tutup, kecuali tempat jualan makanan siap saji yang diperbolehkan buka. Tapi bagi pembeli
dilarang makan ditempat, harus dibungkus dan dibawa pulang. Kalau ketahuan makan ditempat, ya ditangkap,” ujar Bani.

Bani pun mengaku terpaksa mencari kerja serabutan di kampung halamannya, meski gajinya hanya cukup untuk bertahan hidup seadanya.

Antrian tiket yang mengular dari para calon penumpang kapal di Pelabuhan Kukup Malaysia, foto: Istimewa, Sabtu (21/3)

“Mau bercocok tanam tapi tak punya tanah, ya mungkin cari kerja tukang bangunan juga di Tanjungbatu, tapi sampai sekarang belum ada informasi, sebentar lagi mau puasa dan setelahnya lebaran Idul Fitri, banyak yang dipikirkan sementara pengeluaran banyak,” keluhnya.

Hal yang sama disampaikan rekan sekerjanya, Atan. Pria yang juga berdomisili di Desa Lubuk Kecamatan Kundur ini mengaku nyaris tidak kebagian tiket saat disuruh pulang ke Tanjungbatu meski pekerjaan belum selesai dilakukan.

“Antriannya panjang sekali sampai keluar terminal Kukup, memang sih tidak ada yang rebutan karena sistimnya antri, siapa yang sampai duluan itu yang dilayani. Tiketnya ternyata habis kemarin dan tidak mampu melayani semua, dandisambung hari ini sampai besok. Untungnya saya dapat lebih dulu antri,” ungkap Atan.

Disebutkannya, bos tempatnya bekerja menyampaikan baru diperbolehkan kembali ke Malaysia pada 31 Maret. Dan itu pun jika kondisi sudah berangsur membaik.

“Tapi kalau makin buruk, maka penutupan akses masuknya warga asing di Malaysia akan diperpanjang sampai dua minggu lagi. Masih tunggu informasi juga sampai 31 Maret, mudah-mudahan bisa masuk lagi,” harap Atan.

Saat situasi pelabuhan Kukup Malaysia sedang padat atau membludak, dia sempat khawatir dan mencoba memastikan tidak adanya calon penumpang yang mencurigakan, atau kondisi ketahanan tubuhnya yang bisa dikategorikan suspect. Saat kapal sudah merapat ke Karimun dan seluruh penumpang di deteksi di pelabuhan, semuanya dinyatakan aman.

Pantauan di mediasosial facebook milik beberapa masyakat Malaysia, antrian pembelian tiket di Pelabuhan Kukup Malaysia mengular sampai ke jalan dengan jarak puluhan bahkan ratusan meter.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close