KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

Nelayan di Kepri Dinilai Tersisihkan, HNSI Lingga dan Batam Silaturahmi Dengan PKNKB Karimun

Kearifan Lokal Perlu Diterapkan

RADIOAZAM.ID – Nelayan di hampir semua daerah se Provinsi Kepri dinilai masih tersisihkan. Mereka tidak dapat melaut secara maksimal karena belum adanya penerapan kearifan lokal oleh pemerintah daerah masing masing Kabupaten Kota.

Hal itu dikatakan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lingga, Distrawandi saat bertandang ke Kabupaten Karimun, dalam agenda silaturahmi dengan pengurus Persatuan Kelompok Nelayan Karimun Berazam (PKNKB), Selasa malam (17/11), di salah satu restoran wilayah Coastal Area Kecamatan Tebing.

Menurut pria yang akrab disapa Wandi ini, kearifan lokal sangat diperlukan nelayan, guna memaksimalkan pendapatannya. Dalam hal ini pemerintah daerah masing-masing Kabupaten Kota hendaknya dapat menyatukan kebinausahan para nelayan.

“Supaya nelayan kita tidak jadi penonton di laut mereka sendiri. Sejauh ini kita melihat nelayan kita masih belum bebas di laut mereka sendiri. Contohhnya di Natuna dan Anambas, nelayan dari luar yang datang kesitu seperti nelayan Jakarta, Pantura dan lainnya. Kemana nelayan kita disini, mereka hanya bisa melihat dan mendengar kekayaan lautnya,” ucap Wandi.

Kondisi itu juga pasti dirasakan oleh nelayan Kabupaten Karimun, termasuk juga Batam, Lingga, Bintan dan Tanjungpinang. Yang memang perairan di seluruh Kabupaten Kota di Kepri memiliki kekayaan laut yang sangat besar, tapi lagi-lagi nelayan dari luar daerah yang menguasai lokasi tangkap mereka.

“Makanya saya katakan tadi kearifan lokal itu penting. Oleh karena itu satukan dulu nelayan di Kepri, kita kumpulkan baru sampaikan apa potensi yang ada pada laut kita,” jelasnya.

Dia melihat, di Kabupaten Karimun justru memiliki kekuatan nelayan yang sangat masksimal, mulai dari armada para nelayan yang hebat dan banyak lagi. Kondisi itu tentunya juga terjadi di kampung halamannya serta di semua Kabupaten Kota se Kepri.

Untuk itu dia berharap para tokoh dan nelayan di Kabupaten Karimun agar dapat membuat wadah besar bagi nelayan agar dapat disatukan.

Di Kabupaten Karimun, pengurus HNIS saat ini sedang terjadi kevakuman, ketua yang lama pun sudah demisioner. Sehingga organisasi tersebut harus segera digerakkan demi kemajuan nelayan.

“Perlu dijelaskan juga, kedatangan kami dari HNSI Lingga dan HNSI Kota Batam adalah dalam rangka silaturahmi dengan nelayan di Kabupaten Karimun. Untuk saling bertukar pikiran mengenai persoalan nelayan di daerah masing-masing. Alhamdulillah kami disambut oleh pengurus Persatuan Kelompok Nelayan Karimun Berazam (PKNKB),” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan ketua HNSI Kota Batam, Farizal yang turut serta bersama rombongan dalam agenda silaturahmi bersama nelayan tersebut. Menurutnya, antara nelayan Kabupaten Karimun dengan nelayan Kota Batam tentu memiliki kedekatan, karena wilayah yang saling berbatasan atau tetangga. Sehingga jalinan silaturahmi harus tetap dijaga melalui berbagai aspek.

“Kedekatan ini perlu kita sinergikan dan perlu saling kenal, tidak lucu kalau kita berbatas laut tapi kita tidak saling kenal. Dengan demikian kita akan memperkuat para nelayan. Kalau nelayan sudah kompak dan bersatu, banyak program penting yang bisa kita kembangkan. Makanya bagaimana caranya tujuan kami mempersatukan nelayan di Kepri ini agar tercapai,” harap Faizal.

Sejauh ini kata Faizal, banyak hal yang belum diketahui, sehingga jika sudah saling kenal apa lagi sering kunjung mengunjungi, maka tujuan yang diharapkan akan tercapai.

Sementara itu, Ketua PKNKB Kabupaten Karimun, Alfanani mengatakan, silaturahmi yang dihadiri tiga orang ketua nelayan, yakni dari HNSI Lingga dan HNSI Batam, ke PKNKB Kabupaten Karimun tentunya untuk menyatukan presepsi tentang nelayan dan soal kelautan.

“Semoga silaturahmi ini memunculkan gagasan dan ide baru bagi kita semua khususnya di Kabupaten Karimun. Demi kemajuan para nelayan, sehingga apa yang disampaikan oleh Ketua HNSI Kabupaten Lingga dan Ketua HNSI Kota Batam, dalam hal kearifan lokal itu sangat tepat, agar kita tetap menjadi tuan di daerah sendiri,” ujarnya.

Dewan Pendiri dan Pembina PKNKB Kabupaten Karimun, Nyimas Novi Ujiani menambahkan, silatuirahmi yang digelar tiga ketua nelayan dari tiga Kabupaten Kota di Kepri itu merupakan langkah yang sangat positif. Sehingga bisa menyatukan presepsi dan bertukar pendapat atas kondisi nelayan yang terjadi saat ini.

“Beberapa hal yang dibahas menjadi koreksi bersama. Terutama untuk pemerintah daerah Kabupaten Karimun mengenai batas zona tangkapan bagi nelayan, yang merupakan kearifan lokal dan harus diketahui nelayan,” ujar Nyimas Novi.

Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karimun ini berharap, agar jangan sampai persoalan zona tangkapan nelayan menjadi masalah, atau menimbulkan gesekan antar nelayan. Sehingga peran dari stakeholder terkait serta para nelayan sangat diperlukan, dalam pemanfaatan wilayah kearifan lokal.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close