KARIMUNSEPUTAR KEPRITERKINI

Pemuda Teluk Air Hidupkan Tradisi Malam Tujuh Likur, Nyalakan 600 Lampu Colok di Sepanjang Jalan Lembaga Pemasyarakatan

RADIOAZAM.ID – Untuk menghidupkan kembali tradisi malam tujuh likur atau malam27 Ramadhan, sebagai salah satu momen dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, Persatuan Pemuda Pemudi Teluk Air (P3TA) membuat lampu caolok dengan jumlah lebih kurang 600 buah, dan telah mulai dinyalakan pada Rabu malam (27/4/2022).

Lokasinya persis berada sepanjang jalan menuju Lembaga Pemasyarakatan (LP) tepatnya di lingkungan RT 001 RW 001 Kelurahan Teluk Air Kecamatan Karimun, sampai didepan Rutan Kelas II Tanjungbalai Karimun, dengan titik utama berada di seberang jalan Masjid Darussalam Teluk Air. Lampu colok yang dinyalakan berbentuk masjid, lalau pada sisi kiri dan kanan jalan dipasang ratusan lampu menghiasi ruas jalan.

Ketua PPPA, Wira Buana mengatakan, tercetusnya ide untuk membuat 600 lampu colok karena biasanya sering dijumpai lampu colok yang menjadi tradisi menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun beberapa tahun belakangan ini sudah sangat sulit ditemukan nuansa seperti itu.

“Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan tidak pernah lagi diperlombakan, sehingga tidak ada lagi kita temukan lampu colok. Sehingga kami dari pemuda mengatasnamakan PPPPA ini mencoba menghidupkan lagi tradisi yang sudah semakin redup. Kami sebenarnya tidak mengharapkan pertandingan, namun ini kita anggap sebagai tradisi sejak saya masih kecil, dari ujung ke ujung Pulau Karimun sangat mudah ditemukan. Tapi sekarang sudah tidak ada, sehingga kami ingin melestarikan budaya yang hampir hilang ini,” ujar Wira, saat ditemui disela-sela mempersiapkan lampu colok menjelang dinyalaan pada malam harinya.

Panjang jalan yang dipenuhi lampu colok menurut Wira sekitar 700 meter persis sampai didepan Rutan Kelas II Tanjungbalai Karimun. Karena bahan bakar minyak tanah saat ini terbilang cukup mahal dan satu liter sehargq Rp25 ribu, maka para pemuda tersebut mencari alternatif dengan mengganti bahan bakar, dengan menggunakan minyak solar.

Kendati saat ini minyak solar pun mulai naik, per jerigen ukuran 30 liter dibandrol Rp230.000, padahal sebelumnya masih Rp200.000 atau Rp190.000.

Dalam satu malam, Wira mengaku semua lampu colok yang dinyalakan menghabiskan dua jerigen minyak solar. Namun pada malam pertama untuk uji coba, menghabiskan empat jerigen minyak solar, dengan alasan sumbu lampur baru mulai diserap minyak.

“Dalam satu malam rata-rata habis dua jerigen minyak solar. Ini menyala setelah magrib dan dimatikan sekitar jam 22.00 WIB. Rencananya pada malam Hari Raya Idul Fitri akan menyala full sampai pagi dan tidak diangkat, atau sampai minyak habis,” ungkapnya.

Segala macam keperluan mulai dari mengumpulkan bahan dan keperluan minyak, turut dibantu oleh masyarakat dan beberapa donatur, termasuk para pedagang di sekitar Coastal Area. Dana yang terkumpul dinilai cukup sampai malam Hari Raya Idul Fitri.

Wira juga mengharapkan, agar tradisi lampu colok tersebut tidak hilang yang biasanya sangat mudah ditemui pada malam 27 Ramadhan atau istilah penyebutannya malam tujuh likur.

“Biasa memang banyak yang buat, sekarang sudah mulai redup. Maka dalam hal ini saya berharap tradisi ini hidup kembali, dan untuk pemerintah melalui Dinas Pariwisata agar diadakan lagi lah lagi lomba lampu colok ini. Untuk memotivasi masyarakat dalam menghadapi bulan puasa Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri,” harap Wira.

Dalam kesempatan itu Wira juga mengucapkan terimakasih kepada Ketua, Ajak. Selaku orang yang dituakan dan RT 001 dan selalu mensupport segala kegiatan yang dilakukan oleh pemuda selama ini.(agn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close